Sukses Mengajar dan Jadi Pengusaha

Dra. Nanik Rosidah menunjukkan karyanya.

Di Kecamatan Krian ternyata ada sosok guru, seniman, dan sekaligus seorang pengusaha yang namanya cukup terkenal. Ia adalah Dra.Nanik Rosidah, guru Kria SMPN 1 Krian.

Nanik, sapaannya, terkenal lantaran sosoknya yang kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya seni. Potensi Nanik pun ternyata jarang dimiliki guru pada umumnya.

Karirnya tidak hanya sebagai guru Seni Kria di sekolah saja, tetapi juga sukses dalam usaha dan sering mendapatkan penghargaan. Salah satu penghargaan yang pernah ia terima yakni juara I Lomba Citra Wanita Kartini pada tahun 2017.

Bagi Nanik, Lomba Citra Wanita Kartini merupakan kejuaraan yang sangat prestigious. Karena prosesnya sangat ketat dan persyaratannya cukup sulit.

Selain melombakan kompetensi juga menuntut potensi lain yang dimiliki. “Karir dinilai, kemudian peran sebagai ibu rumah tangga, sampai kiprah di masyarakat seperti apa?,” katanya.

Menariknya, tim penilai juga datang ke rumah dan melakukan sampling ke tetangga sekitar rumah. Artinya, data fakta di lapangan menentukan kemenangan dalam lomba itu.

Proses penilaian semakin sulit dengan tidak ada batasan bagi pesertanya. Artinya, peserta bisa dari berbagai macam instansi dan institusi, negeri maupun swasta.

Nanik menambahkan, jurinya pun tidak sedikit karena ada 10 orang. Mulai dari praktisi, pemerhati, hingga akademisi. “Kemudian Diambil 10 terbaik, setelah itu juri melakukan visit ke rumah masing-masing finalis,” tambahnya.

Berbagai macam fase perlombaan ia lalui dalam Citra Wanita Kartini hingga akhirnya ia dinobatkan sebagai pemenang. Menariknya, ia menjadi pemenang pertama dari instansi negeri, karena sejak lomba tersebut diadakan pemenangnya selalu orang-orang swasta.

Namun, ia mengaku bahwa yang ia jalani selama ini bukan hal yang istimewa. Karena ia merasa bahwa sebagai seorang guru yang bergelut di bidang kesenian seyogyanya harus kreatif dan bisa menjadi figur bagi anak-anak di sekolah.

“Ya memang saya banyak kegiatan, terutama yang berhubungan dengan kreativitas dan kesenian,” ungkap Nanik.

Tak hanya itu, ia menjadi seorang guru yang juga memiliki kepedulian kepada masyarakat sekitar. Pasalnya, ia seorang pengusaha yang telah berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga.

Ia mengaku, karena aktivitasnya itu beberapa media massa sempat mendatanganinya. Selain karena prestasi yang berhasil ia torehkan selama beberapa tahun terkahir. “Ya mungkin karena ada prestasi, kemudian ada beberapa karya dan usaha juga,” ngakunya.

Meski demikian, lanjut Nanik, banyak aktivitasnya yang juga luput dari pemberitaan. Pasalnya, jika diruntut sejak ia mengajar di SMPN 3 Taman tak sedikit karya yang telah ia buat.

“Ada beberapa karya yang belum disajikan kepada khalayak umum, seperti prestasi seni anak didik di SMPN 3 Taman,” kata Nanik.

Saat berpindah ke SMPN 1 Krian, Guru Kria itu juga mendorong sekolah untuk bisa menciptakan banyak kreasi seni. Dimulai dari mengubah perwajahan atau tata ruang sekolah supaya memiliki nuansa artistik.

Ia juga pernah memanfaatkan barang bekas dan sampah di sekolah untuk diubah supaya bernilai. Bahkan bisa bernilai jual dan layak dipakai kembali, seperti kursi dan meja bekas yang tak terpakai.

Seperti halnya di SMPN 3 Taman, Nanik juga mendorong peserta didik SMPN 1 Krian untuk berprestasi di bidang seni. Mengaca pada seorang muridnya bernama Anggi Panca seorang anak dari keluarga sederhana yang tekun, hingga ia bisa masuk perguruan tinggi favorit di Surabaya.

Dan, ketika ia berpindah tugas ke SMPN 1 Krian tak bosan-bosannya ia terus melakukan hal yang sama. Ia menyempatkan membimbing anak-anak untuk membuat komik dan lukisan. Ia pun mengubah mindset anak-anak untuk melukis di banyak media.

“Jangan hanya melukis di kertas saja. Cari media yang sekiranya nanti bisa dijual,” kata Nanik.

Nanik pun menyempatkan memamerkan idenya mempercantik sekolah. Selain itu, ada kreasi P5 yang dibuat oleh murid binaannya dengan 9 macam diferensiasi karya.

Selain mengajar, guru Seni Kria itu ternyata sejak tahun 2010 telah menjalankan usaha berupa produksi cat kain. Hampir semua guru-guru seni di Sidoarjo memanfaatkan cat bikinan Nanik.

“Cat bikinan saya sudah jadi langganan guru-guru di Sidoarjo barat. Bahkan ada beberapa dari luar kota,” terang Nanik.

Ia pun mengaku, ada seniman tato asal Bali yang juga langganan memakai catnya untuk melukis sepatu. Sepatu-sepatunya itu ternyata orderan dari orang-orang di luar negeri, seperti Itali.

“Mboys Tato Bali order catnya ke saya, dan sudah lama,” ngaku Nanik.

Selain cat, ia juga memproduksi canvas, tas jinjing, dan perlengkapan tulis serta melukis.

Nanik pun menjelaskan awal mula ia mendirikan pabrik cat rumahan miliknya. Hal itu dikarenakan cat lukis acritex selama ini hanya menyediakan paket cat. Artinya, cat lukis dalam wadah satuan masih jarang, terutama warna putih.

“Saya selain menjual per box juga menyediakan cat dalam bentuk botol satuan,” terang Nanik.

Keyakinan akan banyaknya permintaan cat dalam wadah satuan ternyata membuahkan hasil. Sehingga, eksperimen untuk membuat komposisi warna lain pun ia kembangkan. Hingga ia bisa melayani permintaan berbagai macam warna.

Penjualannya melalui market place atau toko online. Bahkan saat ini akun toko online milik Nanik telah berhasil mendapatkan bintang 5. Artinya, penjualannya telah memenuhi batas yang ditentukan oleh provider toko online.

Kemampuan dan usaha Nanik juga menyita perhatian para seniman. Salah satunya para seniman Dewan Kesenian Sidoarjo yang sempat memberi masukan kepada PENA untuk memprofil Nanik Rosidah.

“Teman-teman di DKS sering menghubungi, karena mungkin sesama seniman,” terang Nanik. (Nis)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *