Wak Rebbi

Oleh Nawawi A. Manan

Ilustrasi (Pinterest).

“Ayo, segera kembalikan! Kerudung ini dicari pemiliknya sampai mumet,” kata mak Supinah, perempuan tua tukang pijat spesialis anak-anak, tetangga depan rumah saya.

Anak-anak yang suka bermain  di halaman rumah mak Supinah pada malam bulan bersinar terang sering mendengar mak Supinah marah atau berbicara sendiri. Kadang-kadang, jika  suara kami amat  berisik, dari dalam rumah mak Supinah terdengar suara seperti lenguh kerbau. Kami segera bubar, berarti wak Rebbi marah karena terganggu.

Wak Rebbi adalah genderuwo penghuni pohon serut  di belakang rumah mak Supinah. Ia selalu menyertai mak Supinah ketika mendapat panggilan memijat. Kadang-kadang, ketika pulang ia membawa barang milik tuan rumah.

Dalam sejarah perjalanan hidup saya, wak Rebbi merupakan makhluk gaib  pertama yang saya kenal.  Meski tidak pernah melihat wujudnya, saya meyakini wak Rebbi bukan makhluk fiktif, imajiner, atau sekadar mitos karena terjadi interaksi dengan mak Supinah.

Pada era 1970-an, pada saat menjelang maghrib setelah turun hujan, banyak tetangga saya mencium bau seperti rebusan singkong beracun disebut gandariya genderuwo. Kami meyakini  bau menyengat itu dari sosok genderuwo penghuni pohon gayam di  tanah pekarangan nenek saya, sekitar 200 meter dari perkampungan.

Keyakinan itu diperkuat kesaksian beberapa orang sering menyaksikan genderuwo di atas pohon gayam sedang rokokan dan kadang-kadang mengganggu orang  lewat dengan melemparkan benda tetapi tak ada wujudnya. Karena itu, di bawah pohon gayam  dipasang lampu ting untuk memberikan rasa aman.

Interaksi terakhir saya dengan genderuwo terjadi pada 2004 di rumah kontrakan   PC GP Ansor Sidoarjo, di Jalan Pasar Ikan. Ketika saya sendirian, setelah mengambil air wudu untuk shalat maghrib,  daun pintu belakang yang tertutup seperti dibanting sekeras-kerasnya: brak!

“Jangkrik! Kalau  berani tampakkan dirimu, ayo kita duel!” tantang saya sambil berkacak pinggang.

“Kok ngaten cara Sampeyan ngadepi genderuwo, Cak!” tanya seorang yunior penghuni kantor Pasar Ikan.

“Pada genderuwone kok ngganggu, kudu  dibuktekna sing genderuwo sejati sapa?” jawab saya.

Semua tertawa terpingkal-pingkal.

“Berarti Sampeyan seniore genderuwo, Cak?” tanya yunior lain. Tawa semakin seru.

Dalam buku The Religian of Java, antropolog Clifford Geertz menyebutkan genderuwo merupakan bagian dari memedi, makhluk halus suka menakut-nakuti seperti wewe gombel, kuntilanak, kemamang, jrangkong, glundung pringis, sundel bolong, dan banas pati.

Pada 2014, ketika pulang setelah melakukan patrol sahur  anak saya melihat bola api (banas pati) di kebun sebelah  rumah kami, bergerak menjauh. Sejak saat itu, saya tidak  pernah  mendengar cerita tentang genderuwo dan teman-temannya.

Yang sering saya dengar dan baca adalah banyak manusia memiliki karakter memedi: jika tidak mau krompomi dengan kelompok kami,  kamu saya pecat;  jika  tidak kamu beri proyek, kamu saya laporkan ke KPK; jika tidak memberi angpao, kamu tidak akan terpilih; jika ke DPP tidak  membawa 2 ribu-ribu-ribu rupiah,  SK atau surat rekomendasimu tidak akan diberikan. Hampir semua ruang dimuka bumi ini sudah dikuasai memedi.

Penggunaan kosa kata “rebbi” untuk menyebut genderuwonya mak Supinah pernah mengakibatkan saya amat masygul, karena saya anggap kata “rebbi” merupakan plesetan kata “rabbi” (Tuhan). Sekarang saya meyakini sebutan itu produk zaman dakwah para wali karena bersifat  tanbih (mengingatkan), bahwa manusia yang tidak mendekatkan diri kepada Rabbi kelakuan dan derajatnya sama dengan  wak Rebbi.

“Yang paling susah menghadapi orang-orang berlagak Rabbi tetapi sesungguhnya wak Rebbi,” kata saya kepada para yunior.

“Apakah entitas manusia seperti itu juga terdapat dalam kepengurusan NU, Cak?” kata seorang yunior ketika saya minum kopi agak panas.

Pertanyaan itu mengakibatkan saya menahan tawa, kesenggruk, kemudian terbatuk-batuk sehingga kopi di mulut saya tersembur.

Foto Nawawi A. Manan, penulis yang merupakan Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo, jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *