Belajar Sepakbola di Juventus

Indrajid Sugianto, S.Pd

Mengantarkan Sidoarjo juara 1 Gala Siswa Nasional tahun 2018.

Dibalik keberhasilan gelaran sepakbola anak bernama Gala Siswa Indonesia (GSI) di Sidoarjo terdapat satu nama yang tak asing di telinga anak-anak dan guru-guru olahraga. Ia adalah Indrajid Sugianto, S.Pd.

Namanya tenar karena berhasil membawa tim GSI Sidoarjo menjuarai GSI tingkat nasional. Saat itu ia ditunjuk sebagai manajer tim.

Kepada PENA ia menuturkan, memulai fokus mengurusi sepakbola karena melihat bakat sepakbola anak-anak yang belum terseleksi dan tertampung dalam sebuah kejuaraan. Hingga akhirnya, ia bersama guru-guru olahraga lainnya sepakat menjadikan GSI jadi ajang untuk mencari dan menampung anak-anak berbakat.

Kejuaraan tersebut dilaksanakan secara berjenjang. Tahapannya pun dilakukan mulai antar sekolah. Setelah itu, anak-anak terbaik dari sekolah-sekolah yang kalah ditampung untuk dijadikan satu dengan klub pemenang.

Ia mengakui, banyak anak-anak berbakat di sekolah-sekolah yang luput dari pantauan talent scouting. “Tidak semua klub sepakbola ada di desa-desa atau kecamatan,” katanya.

Indra menambahkan bahwa sebagian dari mereka selama ini bermain di lapangan sekolah dan kampung tanpa arahan dan bimbingan. Selain itu, belum mendapat kesempatan merasakan berlaga atau bertanding di sebuah kejuaraan.

Menurut Indra, tak sedikit bakat mereka adalah bakat alami yang perlu dioptimalkan. Artinya, meski belum mendapat arahan bermain skill mereka tidak kalah dengan anak-anak sekolah sepakbola.

Dengan adanya GSI, guru-guru olahraga pun terpacu untuk mencari bibit pesepakbola muda. Mereka pun berinisiatif  membimbing hingga mengarahkan supaya bakat sepakbolanya terukur dan latihannya terencana sesuai tahapan dan standarisasi.

GSI kata Indra, selain ajang kompetisi juga jadi media untuk mengukur kemampuan anak yang dimiliki setiap kecamatan. Selain itu, jadi jembatan untuk karir mereka jika ingin serius di sepakbola.

Menariknya, dari ajang tersebut anak-anak juga berkesempatan direkrut oleh klub-klub sepakbola. Pasalnya, tak jarang para talent scouting menyaksikan selama gelaran dilaksanakan.

“2018 lalu GSI Sidoarjo mulai berjenjang,” terang Indra.

Bersama coach Firman Utina.

Dimulai dari tingkat kecamatan yang diikuti oleh sekolah-sekolah negeri dan swasta. Kemudian, yang terbaik akan menjadi tim kecamatan dengan didukung pemain terbaik dari sekolah yang tidak juara.

Tim tersebut akan bertanding di tingkat kabupaten. Usai juara, beberapa pemain terbaik dari tim yang kalah akan berkesempatan bergabung dengan tim pemenang untuk dipersiapkan ke tingkat provinsi.

Karena itu, GSI jadi harapan anak-anak dan selalu dinanti setiap tahun. Pasalnya, pelaksanaan pertandingan hingga tingkat nasional.

“Anak-anak tahu, yang terbaik dan bisa bersaing akan tetap berlanjut dan punya kesempatan,” kata Indra.

Saat jadi manajer tim mewakili Jawa Timur Indra berhasil mengantarkan predikat kiper terbaik, pemain belakang terbaik, dan pelatih terbaik nasional. Pasalnya, tim yang ia punggawai berhasil meraih juara pertama.

Keberhasilan tahun 2018 juga mengantarnya menimbah ilmu di Akademi Sepakbola Juventus. Indra bersama tim Sidoarjo dan Jawa Timur berkesempatan menjajal pelatihan di Italia selama 2 minggu.

Selain itu, juga sempat menjalani beberapa pertandingan persahabatan melawan tim-tim di Italia. Bahkan, melawan tim kelompok umur milik Juventus.

Ia pun berkesempatan berbincang dan menimbah ilmu ke Indra Safri secara langsung. Ia juga diberi wawasan mengelola sebuah tim sepakbola.

Saat di Italia Indra juga berkesempatan melihat Liga Champion. “Saya sama anak-anak ditemani Indra Safri lihat Juventus lawan Sevilla langsung waktu itu,” katanya.

Pengalaman Indrajid di kepelatihan dan manajemen sepakbola Sidoarjo cukup panjang. Selain mendorong anak-anak meraih prestasi sepakbola ia juga menginisiasi guru-guru olahraga memiliki sertifikat kepelatihan.

Saat dipercaya jadi juru taktik tim Gala Siswa Sepakbola Nasional.

Artinya, tim-tim yang bertanding di gelaran GSI tidak melibatkan kepelatihan dari luar atau pelatih profesional. Sehingga, guru-guru olahraga dituntut memiliki pemahaman tentang sepakbola kemudian melatih tim.

Pengalaman Indrajid saat memegang tim nasional karena menggantikan pelatih dari Sidoarjo yang mengundurkan diri usai mengikuti seleksi pelatih nasional. Menariknya, ia langsung menahkodai anak-anak hasil seleksi nasional.

“Saat itu saya hanya menggantikan posisi pelatih dari Sidoarjo yang mengundurkan diri karena ikut elit pro akademi,” terang Indra.

Ketika itu, lanjutnya, pelatih yang terseleksi diberikan anak-anak yang juga hasil seleksi nasional. Para pelatih kemudian dituntut meracik susunan pemain dan merancang strategi pertandingan.

Saat jadi pelatih nasional itu Indrajid berhasil mengantarkan tim yang ia pimpin memenangi pertandingan tingkat nasional. Padahal, anak-anak dari tim tersebut belum ia kenal karena berasal dari berbagai daerah yang diseleksi kemudian dijadikan tim.

“Tim yang saya pegang alhamdulillah menang. Juara I nasional,” ungkap Indra.

Karir menejerial Indrajid di sepakbola sempat terganjal karena pandemi Covid-19. Bukan berarti berhenti, tetapi gelaran GSI dilakukan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kepemimpinannya diuji di masa pandemi. Ia dipaksa memutar otak untuk menyesuaikan regulasi dari luring ke sistem daring.

Perubahan regulasi tersebut tidak menyurutkan prestasi Indrajid. Ia malah dipercaya menilai anak-anak se Indonesia kemudian jadi pelatih mereka –dari yang awalnya menjadi manajer kemudian jadi pelatih.

Indrajid berharap, efisiensi yang dilakukan pemerintah tidak menyurutkan gelaran sepakbola untuk anak-anak. Pasalnya, karir cabang olahraga sepakbola diminati banyak masyarakat. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *