
Meski belum memiliki induk organisasi di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sidoarjo bukan berarti cabang olahraga (cabor) Triathlon tidak ada di Kota Delta. Cabor tersebut ternyata sudah digeluti oleh seorang alumni SMPN 3 Krian bernama Ni Putu Dyah Melati Cahyani sejak ia kelas 7.
Dyah panggialannya mengaku, selama ini belum ada anak yang menemaninya berlatih selain ayahnya sendiri I Ketut Widia yang juga merupakan atlet Triathlon nasional. Sang Ayah juga bertugas menjadi pelatih sekaligus official saat melakoni pertandingan. “Latihannya sama ayah saja,” ngakunya.
Meskipun belum ada di KONI Sidoarjo Dyah tetap semangat berlatih dan menargetkan berprestasi. Desember 2021 lalu ia pun membuktikan diri dengan mengantongi juara II saat seleksi nasional cabor Triathlon di Unesa. Dengan berbekal latihan fisik yang keras ia menargetkan naik podium dalam seleksi tersebut.
“Ya harus latihan keras, karena cabang olahraga inikan berat karena 3 macam olahraga dijadikan 1,” kata Dyah.
Selain latihan keras, ia juga harus memiliki strategi menaklukkan segala medan yang ada di arena pertandingan. Pasalnya, ada batas ketahanan fisik maupun mental yang harus diatur saat laga sedang berlangsung.
Strategi tersebut diperoleh dari bimbingan pelatih dan juga pengalaman bertanding.
Dyah mengakui bahwa untuk menggeluti olahraga Triathlon para atlet harus ditempa sejak dini, atau saat usia sekolah dasar. Pasalnya, pembentukan kekuatan fisiknya dilatih secara bertahap dengan setiap hari latihan. Tiga lintasan yang terdiri dari air, lintasan sepeda, dan lintasan lari harus dikenalkan supaya atlet cepat melakukan penyesuaian.
Lintasan airnya pun harus bisa menaklukkan air di laut dan di tempat lainnya. Pastinya dengan tantangan dan rasa yang berbeda. Sekaligus, tingkat kesulitan yang berbeda pula.
Kemenangan di Unesa lalu merupakan prestasi pertamanya. Sebelumnya, Dyah sempat mengikuti kejuaraan tingkat nasional di Jepara namun belum bisa membawa pulang tropi juara. Ia harus puas berada di urutan ke lima.
Meski demikian, even di Jepara merupakan modal terpenting bagi Dyah untuk melakoni kejuaraan selanjutnya. Tak sedikit pengalaman ia dapatkan sepulang dari Jepara. Di sisi lainnya, medan pertandingan di sana yang memakai laut jadi pengalaman mengenal beratnya berenang di laut.
“Pasti berat, karena di laut tantangannya berenang dengan arus air dan ombak,” ungkap Dyah.
Berbeda dengan perlombaan yang digelar sesudahnya, yakni di Unesa. Arena perlombaan yang berada di kawasan komplek kampus memudahkan Dyah untuk mengungguli peserta lain. Dengan berbekal pengalaman bertanding di Jepara, saat di Unesa ia hanya berenang di waduk. Sementara itu, jalur bersepeda dan berlari juga di sekeliling Unesa.
Meski demikian, strategi dan fokus tetap dijalankan. Pasalnya, saat mengawali pertandingan dengan berenang ia sempat kehilangan fokus karena kehabisan nafas saat berada di dalam air. “Yang paling berat di antara 3 sesi yakni berenang karena sempat ndak bisa ngatur nafas,” kata gadis kelas 11 itu.
Namun, saat sesi bersepeda ia kembali fokus dan dengan sengaja berada di belakang urutan pertama. Artinya, dengan berada di line 2 ia bisa mengamati yang terdepan dan mengembalikan fokus dengan memperhatikan lawan utama.
Hal tersebut merupakan strategi yang sering dilakukan para atlet Triathlon. Dan di sesi akhir yakni lari, para atlet totalitas untuk memenangi pertandingan.
Ajang Triathlon di Unesa lalu merupakan kejuaraan nasional kelas Youth Distance untuk mencari bakat-bakat baru di daerah. Dalam kejuaraan itu ia harus menyelesaikan lintasan sepanjang 300 Meter untuk renang, 7 Kilometer bersepeda, dan 1,5 Kilometer lari.
Jarak itu merupakan standarisasi kejuaraan Triathlon tingkat Youth Distance. Mereka yang tergolong kategori tersebut merupakan anak-anak dengan usia 12 hingga 16 tahun.
Namun, Dyah mengaku keikutsertaan dalam kejuaraan itu bukan mewakili Sidoarjo. Hal itu cukup beralasan karena Sidoarjo masih belum memiliki induk organisasi sehingga Dyah merupakan keterwakilan Jawa Timur. Sama seperti atlet lainnya yang mewakili provinsi.
Harapannya, dengan prestasi yang telah diraihnya Sidoarjo segera membentuk induk organisasi dan mendorong munculnya klub-klub Triathlon.
Untuk meniti karir sebagai atlet professional ia harus masuk klub Triathlon professional. Di Jawa Timur hanya ada di Malang. Jika masuk ke klub tersebut maka Dyah harus pindah sekolah karena berada di asrama dan komplek klub.
Klub yang ada di Malang tersebut juga sebagai induk organisasi cabor Triathlon Jawa Timur. Sehingga untuk bisa masuk dan menjadi anggotanya harus melalui seleksi terlebih dahulu.
Meski sudah pernah mendapatkan juara ketentuan untuk memasuki klub tersebut harus tetap melalui seleksi. Sehingga, Dyah harus mempersiapkan dirinya dengan berlatih tanpa mengurangi durasi waktu latihannya.
Ia menambahkan, dalam 1 minggu hanya menyisahkan 1 hari saja untuk libur. Artinya, hampir setiap hari ia latihan. Dan jaraknya pun ditentukan oleh pelatih.
Dalam sekali latihan kurang lebih 5 Kilometer jarak yang harus diambil untuk berlari. Dan catatan latihannya pernah mencapai 10 Kilometer dalam waktu 1 jam. Sedangkan tuntutan latihan bersepeda kurang lebih 40 Kilometer. Dan renang sekitar 800 Meter dengan tambahan untuk latihan kecepatan 500 Meter.
Tuntutan tersebut membuat Dyah harus terpenuhi asupan gizinya. Meskipun, saat ini kebutuhan latihan hingga pertandingan masih ditanggung oleh keluarga.
Dalam cabor Triathlon, Dyah pun merasa terlambat untuk menggelutinya. Sehingga tahun ini ia hanya sempat mengikuti 2 kali kejuaraan. Untungnya, prestasi nasional telah berhasil ia torehkan.
Ia diuntungkan karena Sang Ayah seorang pelatih sekaligus mantan atlet, ditambah lagi ibunya yang merupakan guru olahraga. Tak tanggung-tanggung, Sang Ayah merupakan mantan atlet lari Pekan Olahraga Nasional (PON) dan juga seorang anggota TNI.
Pengalaman dan karakter ayah sangat menentukan kedisiplinan dan fisik seorang Dyah yang targetnya bisa bertanding di kejuaraan Triathlon di luar negeri. Jasalindo Malang jadi klub yang juga ditargetkan Dyah dalam mengasah kemampuannya. (Nis)







