Beri Motivasi Anak-anak Penghafal Al-Qur’an

Proses ujian hafalan Al-Qur’an di SMPN 1 Tulangan.

Bermula dari diterapkannya Kurikulum Merdeka dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) SMPN 1 Tulangan (Spentula) berinisiatif untuk melakukan inovasi di sekolah. Salah satunya dengan membuka kelas hafalan Al-Qur’an (tahfid Qur’an).

Kepala SMPN 1 Tulangan Agus Pujiono, M.Pd menginginkan kalau kurikulum tersebut harus dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah. “Awalnya kami melihat kurikulum ini sebagai peluang untuk membangun karakter,” terang Agus.

Bersama guru-guru ia mencoba mendalami terkait item pembangunan karakter bertakwa dan berakhlak mulia dalam P5. Kesimpulannya, Tulangan merupakan kawasan religi yang harus dimaksimalkan di sekolah.

Banyaknya sekolah madrasah di kecamatan tersebut jadi penanda lulusan madrasah juga tak sedikit yang bersekolah di SMPN 1 Tulangan.

Sekolah akhirnya melakukan pendataan potensi. Dan, saat mamasuki masa pengenalan sekolah dilakukan tes membaca Al-Qur’an.

Menariknya, kata Agus, ditemukan anak-anak yang telah hafal. Jumlah hafalannya pun bermacam-macam, di antaranya hafal 3 juz, 1 juz, dan lain-lain.

Pada Bulan Juli 2022 akhirnya SMPN 1 Tulangan membuka kelas peminatan untuk anak-anak yang menghafal Al-Qur’an. Supaya bisa menampung dan mewadahi anak-anak istimewa tersebut secara khusus.

“Awal kita buka untuk kelas 7. Tiga tahun lalu, Juli 2022,” ungkap Agus.

Tak sekedar membuka kelas peminatan, pihak sekolah juga serius mengembangkan kelas dengan menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo. Sehingga, standar hafalan dipantau langsung oleh Kemenag.

Namun, ungkap Agus, banyaknya dorongan dari internal sekolah untuk tak sekedar hafalan. Artinya ada aspek Al-Qur’an lainnya seperti tartil dan tahsin.

“Awalnya cuma tahfid saja. Tetapi banyak dorongan untuk sekalian saja 3T (tahfid, tartil, tahsin),” ujar Agus.

Para peserta ujian tahfid Qur’an SMPN 1 Tulangan.

Namun, Agus mengakui, pelaksanaan program 3T tidak semudah yang dibanyangkan. Pasalnya, butuh keterlibatan pihak luar yang khusus menangani Al-Qur’an, seperti TPQ.

Untungnya, SMPN 1 Tulangan memiliki 2 guru yang memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an. Mereka merupakan alumni pondok pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto dan Universitas Islam Malik Ibrahim, Malang.

Kedua guru yang berperan penting itu yakni Annisa Lutfiaturrofifah, S.Pd dan Majidatul Himmah, S.Pd.

Pada tahun 2024, karena semakin bertambahnya anak-anak yang masuk kelas Tahfid maka pihak sekolah menambah jumlah guru menjadi 4 orang. Tambahan tersebut dihadirkan dari TPQ sekitar yang telah memiliki ijazah hafal Al-Qur’an.

Agus menjelaskan, saat ini semua tingkatan mulai kelas 7 hingga 9 terdapat para penghafal Qur’an. Ke-4 guru tersebut mengelola kelas tahfid selama 4 hari, mulai Senin hingga Kamis usai salat duhur.

“Jumlah anak kelas tahfid sekarang hampir 100 anak,” jelas Agus.

Pada ahkir Desember lalu sebanyak 50 anak mengikuti ujian. Para penguji dihadirkan dari Kemenag Sidoarjo. Menariknya, para wali penghafal juga dihadirkan menyaksikan langsung ujian.

Kehadiran wali peserta didik diharapkan bisa memotivasi anak-anak saat ujian. Sekaligus meminta para orangtua untuk terlibat dalam mengawal anak-anak hafalan di rumah. Pasalnya, di sekolah anak-anak hanya memiliki waktu 1 jam untuk murajaah.

Akhir tahun 2024, tambah Agus, jadi ujian ke-5 sejak kelas tahfid dibuka. Ujian hafalan dilaksanakan setiap akhir semester.

Dalam satu tahun kelas tahfid memberlakukan target hafalan. Jumlahnya bervariasi, ada yang 3 juz dan lain-lain. Sesuai dengan pemetaan hafalan di awal masuk kelas.

Pemetaan tersebut, terang Agus, juga menjadi ukuran menerima beasiswa bantuan pendidikan dari pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Jumlah penerima di kelas tahfid setiap tahun bertambah.

Tahun pertama terdapat 7 penerima. Tahun ke-2 jumlah tersebut naik 2 kali lipat menjadi 14 anak. Dan, tahun 2025 Agus menargetkan 30 anak bisa menerima bantuan pendidikan khusus tahfid.

“Ada yang istimewa di tahun 2025. Ada anak yang telah mencapai hafalan 30 juz,” ujar Agus.

Ia bersyukur dengan adanya bantuan pendidikan untuk para penghafal. Pasalnya, anak-anak termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an dan menyelesaikan target hafalan.

Kelas Tahfid di SMPN 1 Tulangan ternyata jadi pilot program hafalan setingkat SMP oleh Kemenag Sidoarjo. Dan jadi sekolah negeri tingkat SMP pertama di Sidoarjo.

Peserta didik kelas tahfid juga sempat mendapatkan dukungan dari pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A.

“Beberapa waktu lalu saya ajak anak-anak ke pondoknya Kiai Asep. Di sana ditemui langsung oleh beliau dan Gus Barra. Ditempatkan di ruang VIP,” terang Agus.

Kunjungan tersebut berlangsung selama 2 hari. Selama di pondok pesantren 50 anak penghafal dari Spentula melihat dan mengikuti langsung kegiatan para penghafal Al-Qur’an.

Tak hanya kegiatan hafalan, mereka juga melihat langsung kultur di pondok. Mulai dari prilaku dan sikap kepada orang hingga nilai-nilai kemandirian anak-anak.

“Anak kelas tahfid ini juga jadi model anak yang tawadu di sekolah,” kata Agus.

Salah satu anak penghafal Al-Qur’an bernama M. Afif Hisyam mengaku senang dengan adanya kelas tahfid di SMPN 1 Tulangan. Ia pun akhirnya memutuskan menjadi penghafal sejak ada di Spentula.

Artinya, sebelum masuk SMP ia bukan seorang tahfid Al-Qur’an. Baru ketika di SMP ia mulai menghafal dan sekarang sudah 2 juz ia hafalkan. (Nis)

Kepala SMPN 1 Tulangan Agus Pujiono, M.Pd didampingi guru agama dan seorang penghafal Al-Qur’an M. Afif Hisyam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *