Juara ASEAN Jiu-jitsu dari Prambon

Raya Marafa Putra saat menerima medali juara 1 ASEAN Jiu-jitsu di UNESA Surabaya. 

SMPN 1 Prambon jadi sekolah produktif menghasilkan atlet-atlet berbakat dalam cabang olahraga Jiu-jitsu. Pasalnya, sekolah tersebut unggul dalam melahirkan atlet cabor tersebut.

Tahun ini salah satu atletnya yakni Raya Marafa Putra yang menjuarai kejuaraan Jiu-jitsu se Asia Tenggara di Universitas Negeri Surabaya pada Oktober 2024 lalu.

Raya berhasil menjuarai nomor remaja tingkat SMP. Ia masuk kelas B under 50 Kilogram. Ia adalah satu dari 6 atlet SMPN 1 Prambon yang juga berlaga di kejuaraan tersebut.

Raya dan ke-6 temannya menjadi atlet unggulan dan andalan sekolah. Selain dipercaya mendulang medali ternyata Raya juga ditunjuk sebagai ketua OSIS tahun ini.

Raya mengaku, dalam setahun sudah berhasil mengumpulkan 4 medal dari berbagai tingkatan kejuaraan. Dimulai dari Porkab tahun 2024 lalu dengan raihan prestasi juara pertama.

“Kurang lebih latihan sudah setahun. Mulai kelas 7,” kata Raya.

Ia mengaku tertarik dengan Jiu-jitsu karena gerakan-gerakannya sederhana. Tetapi, menuntut kemampuan komplit mulai dari pukulan hingga bantingan dan kuncian. Bahkan, lemparan juga  dinilai.

Namun, Raya mengakui bahwa Jiu-jitsu merupakan olahraga extreme. Karena itu, selama bertanding para atletnya memakai pelindung hampir di sekujur tubuh.

Bahkan, dalam jiu-jitsu tidak diperkenankan untuk sparing partner. Sehingga untuk mengasah kemampuan harus dengan guru dan teman seperguruan.

Meski demikian Raya masih terkadang bingung saat bertarung. Pasalnya, Jiu-jitsu tidak hanya berusaha menjatuhkan lawan tetapi harus menyelesaikan pertarungan hingga lawan menyerah dan tidak bisa melawan kembali.

Bersama sang pelatih M. Gilang Derajat Pradana.

“Susahnya itu kalau sudah bisa menjatuhkan lawan. Mau diapain setelah lawan jatuh itu kadang masih bingung,” terang Raya.

Ia pun menjelaskan bahwa ground fighting merupakan hal yang sulit. Butuh ketahanan dan ketenangan untuk bertahan dan menyerang balik ketika ada kesempatan.

“Ada bagian sulit di Jiu-jitsu, yakni Newaza,” kata Raya.

Bagian tersebut membutuhkan endurance atau tingkat ketahanan para atlet. Butuh banyak ujicoba dan berlatih dengan partner atau pelatih.

Ia beruntung memiliki guru Jiu-jitsu di SMPN 1 Prambon. M. Gilang Derajat Pradana merupakan guru Pendidikan Agama Islam yang merangkap sebagai guru dan pelatih Jiu-jitsu.

Karena ada Gilang, training center pun tidak perlu masuk karantina di tempat khusus. Pasalnya, Gilang menerapkan latihan tambahan pada hari Ahad di rumahnya.

“Ada latihan 2 kali di sekolah terus ditambah di rumah saya,” tambah Gilang.

Tak hanya mengantarkan Raya saja meraih juara, sebelumnya Gilang juga sempat mencetak atlet lainnya sebelum pandemi Covid-19.

Gilang menjelaskan, Jiu-jitsu merupakan olahraga yang terbagi dalam 75 persen latihan fisik, 20 teori, dan 5 persen evaluasi.

Kemenangan Raya di Unesa jadi prestasi yang prestigious. Pasalnya, beberapa negara seperti Thailand, Filipina, Timor Leste turut serta dalam ajang itu.

Juara Porkab Sidoarjo 2024.

Namun, di final Raya bertanding melawan atlet Surabaya. “Kebetulan finalnya bukan dari luar negeri,” ujarnya.

Raya berhasil mengumpulkan nilai dengan torehan poin 61. Ia unggul dalam kombinasi serangan yang memadukan pukulan, tendangan, dan bantingan.

Ekstrakurikuler Jiu-jitsu jadi olahraga beladiri satu-satunya di SMPN 1 Prambon. Olahraga tersebut sempat tidak aktif akibat pandemi Covid-19. Akhirnya, tahun 2023 lalu pihak sekolah mengaktifkan kembali.

Setelah diaktifkan, peminatnya pun cukup banyak. Ada sekitar 25 peminat mulai kelas 7 hingga 9.

Untuk di SMPN 1 Prambon anak-anak mempelajari tradisional Jiu-jitsu dari Jepang. Tetapi teknik-tekniknya telah dialih bahasa dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Raya pun masih terkadang kebingungan untuk menghafal teknik itu. Hal itu berimbas pula pada intruksi pelatih. Karena terkadang intruksi pelatih tidak bisa direspon secara cepat oleh anak-anak.

“Kalau hambatan waktu latihan tidak ada, cuma anak-anak sulit menghafal nama tekniknya,” ujar Gilang.

Meski demikian, lanjut Gilang, atlet Jiu-jitsu SMPN 1 Prambon memiliki kelebihan bertarung dengan pola Newaza atau ground fighting. Dan kelebihan itu telah ada sejak ekstrakurikuler tersebut mulai ada di sekolah.

Raya menuturkan bahwa kemenangan di ground fighting terkadang mengakibatkan tubuhnya berasa sakit. Namun, hal itu menurutnya wajar bagi seorang atlet beladiri.

“Sakit sedikit. Beberapa hari sudah hilang,” kata anak yang bercita-cita jadi tentara itu.

Meski masih berstatus sebagai atlet pelajar, Jiu-jitsu di SMPN 1 Prambon telah menerapkan pola hidup sehat secara ketat. Mulai dari makan hingga jam istirahat atau tidur.

Anak-anak tidak diperbolehkan makan makanan instan seperti mie. Selain itu, semua makanan yang berasa pedas. Dan, maksimal pukul 9 malam anak-anak harus tidur.

Perkembangan fisik anak-anak dipantau khusus oleh pelatih. Terdapat tolok ukur bagi fisik atlet selama mengikuti ekstrakurikuler Jiu-jitsu. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *