
Adanya Golden Tickets di perguruan tinggi negeri selalu ditunggu-tunggu anak-anak jelang kelulusan. Pasalnya, tiket tersebut merupakan fasilitas bebas biaya kuliah dengan syarat dan ketentuan yang berlaku selama 4 tahun.
Salah satu peserta didik SMAN 1 Krian Fareza Najwa Tsausan telah berhasil mendapatkan program tersebut. Ia memilih jurusan Bimbingan Konseling di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Fareza menjelaskan, awalnya ia tak sengaja menjumpai informasi tentang Golden Tickets di media sosial. Kemudian ia mempelajari persyaratannya.
“Pastinya ada syarat-syaratnya. Dan sepertinya cukup berat,” kata Fareza.
Salah satunya, harus memiliki bukti prestasi tingkat nasional. Karena ternyata itu yang paling menguatkan untuk bisa menerima tiket emas dari perguruan tinggi.
Selain itu, kata Fareza, ada kontrak komitmen untuk mengembangkan prestasi selama kuliah. “Selama kuliah harus menunjukkan bisa tetap berprestasi atau membuat inovasi,” katanya.
Fareza yakin komitmen itu dapat ia penuhi. Pasalnya, selama masih bersekolah, ia telah banyak mendapatkan penghargaan atau juara di beberapa kompetensi.
“Sempat beberapa kali juara kabupaten dan provinsi,” katanya.
Karena budaya kompetisi sudah ada dalam diri Fareza, maka ia yakin bisa memenuhi persyaratan tersebut selama menjalani masa kuliah.
Ia pun harus memenuhi syarat administrasi. Salah satunya portofolio prestasi selama di sekolah, akademik maupun non akademik.
Setelah itu, ada tes wawancara. Tes tersebut untuk mengukur kecakapan verbal atau kemahiran dalam berkomunikasi.
Kata Fareza, nilai tes wawancaranya sangat menonjol. Pasalnya, aktivitas latihan pidato sering ia lakukan.
“Iya, mungkin efek dari latihan pidato waktu ikut perlombaan,” kata Fareza.
Lulus dan lolosnya dirinya meraih Golden Tickets di Unesa itu berkat dorongan guru, teman, dan orangtuanya. Tahun ini ada sekitar 1000 anak yang mendaftar.
Fareza menjelaskan, pihak kampus hanya menginginkan 15 anak untuk menerima Golden Tickets. Sehingga, ia harus bisa menyisihkan 900 lebih anak yang mendaftar.
“Banyangin, 1000 pendaftar, tapi cuma 15 anak yang diambil,” terang gadis lulusan kelas akselerasi waktu SMP itu.
Tak hanya senang, hal itu pula yang membuat dirinya bangga. Bahkan, pihak sekolah dan orangtuanya pun mengaku terkejut ia bisa mendapatkan Golden Tickets.
Gadis belia yang jago berpidato itu mengaku, keberhasilan meraih Golden Tickets merupakan hasil dari proses saat mengikuti lomba-lomba pidato.
Dari tekunnya ia belajar, terutama membaca, menjadikan wawasannya unggul. Hal itu dapat dilihat dari peringkat atau rangking di sekolah.
Sebelum menerima Golden Tickets Fareza pun sempat menjuarai lomba pidato di Unesa. Selain itu, ada lagi kompetisi nasional yang lain, yakni juara I lomba pidato Bintang DPR RI. Dan, juara I di lomba orasi pendidikan di Uinsa.
Fareza merupakan anak dengan kemampuan verbal di atas rata-rata. Hal itu tampak saat ia masih sekolah dasar dengan seringnya mengikuti lomba membaca puisi dan mendongeng.
“Awalnya dulu ya sempat ikut lomba dan juara waktu masih SD,” terang Fareza.

Namun, hal itu sempat terhenti saat SMP. Pasalnya, ia masuk kelas akselerasi yang mengharuskan ia fokus untuk belajar dan meraih prestasi akademik di sekolah.
Setelah berada di bangku SMA, keinginan untuk berlomba kembali muncul. Beruntungnya, di sekolah banyak dukungan untuk meningkatkan kemampuan menulis.
Setiap naskah pidato yang dilombakan harus ditulis. Dan, karya tulis tersebut juga menjadi salah satu item penilaian.
Fareza mengaku, salah satu guru bernama Hadista Ari Santoso sangat membantunya belajar menulis. Mulai dari pemilihan diksi hingga penggunaan tanda baca.
“Di SMA saya mendapatkan banyak dukungan dan bantuan untuk persiapan lomba,” terang Fareza.
Pemilihan Jurusan Bimbingan Konseling pun masukan dari sekolah. Ia terima masukan itu lantaran ingin keluar dari passion yang selama ini melekat dalam dirinya.
“Pengennya sih keluar dari passion. Bimbingan Konseling sepertinya dapat pengalaman yang luas,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Meskipun sering juara lomba pidato, Fareza mengaku masih takut jika diminta berpidato tanpa persiapan. Pasalnya, selama ini yang ia lakukan masih sebatas pidato hafalan.
Ia pun mencoba belajar dari kakeknya yang ternyata seorang penceramah. Selain itu, ayahnya pun juga seorang mubalik yang sering memimpin jamaah pengajian.
Anak yang di rumah terkenal cerewet itu terinspirasi dengan orangtua dan kakeknya. Ia mentargetkan bisa berbicara di depan publik tanpa teks dan menghafal.








