
Memberikan mandat sebagai kepala sekolah yang mengawali karir dari guru penggerak sepertinya memang tepat. Karena, mereka memiliki gambaran mengelola pendidikan di sekolah. Selain itu, ada pengalaman mengajar dan menangani permasalahan peserta didik saat menjadi guru.
Seperti kepala SMAN 1 Wonoayu Ririn Faridah, sebelum menjabat sebagai kepala sekolah ia telah lama mengajar di SMAN 2 Sidoarjo.
“Pengalaman selama kurang lebih 22 tahun, ditambah dengan guru penggerak, dan saat ini menjadi pendamping guru penggerak,” terang Ririn.
Ririn mengatakan, untuk mencapai kenaikan jenjang harus melalui proses cukup panjang. Artinya, kematangan seorang telah teruji sebelum menerima mandat sebagai pemimpin.
Wanita yang sebelumnya seorang guru Matematika itu menyarankan, setelah karir dicapai hal terpenting lainnya yakni membagikan pengalaman. Sehingga, meskipun sudah menjadi kepala sekolah ia masih ingin menjalani aktivitas sebagai guru pendamping.
“Sebelum jadi kepala sekolah sempat mendaftar sebagai pendamping, kemudian lolos. Sekarang ya, dijalani saja. Jadi kepala sekolah juga pendamping,” kata Ririn.
Sebelum menentukan program sekolah, Ririn melakukan pengamatan mendalam di SMAN 1 Wonoayu. Pasalnya, ia ingin memimpin sekolah sesuai dengan kondisi yang ada.
Ririn pun mengaku, lingkungan sekolah yang ia tempati saat iniĀ berbeda dengan sekolah tempatnya mengajar dulu. Perbedaannya jelas, SMAN 2 Sidoarjo merupakan sekolah perkotaan. Sementara di SMAN 1 Wonoayu berada di pinggir kota.
“Selama saya jadi guru belum sekali pun saya ke SMAN 1 Wonoayu,” ungkap Ririn.
Setelah ia ditempatkan dan memimpin sekolah itu, Ririn menemukan kelebihan sekaligus kekurangan yang harus dikelola dan diselesaikan.

Kata Ririn, anak-anak di Wonoayu masih tampak kearifan lokalnya. Artinya, mereka sangat santun dan cenderung memakai Bahasa Jawa Krama jika diajak bicara.
“Anak-anak di Wonoayu sangat unik dan menarik, karena di sekolah kota sudah jarang kita temui anak-anak dengan bahasa Jawa Krama,” ujar Ririn.
Sikap seperti itu yang membuatnya betah di sekolah. Dan itu, menjadi bagian dari karakter yang akan dipertahankan.
Namun, di sisi lain masih dijumpai anak-anak yang tidak bersemangat untuk melanjutkan sekolah. Mereka tidak memiliki gambaran pentingnya pendidikan bagi masa depan.
“Saya sempat menjumpai anak yang tidak ingin melanjutkan sekolah,” ungkap Ririn.
Satu anak ingin berhenti sekolah karena merawat orangtuanya yang sedang sakit. Dan, yang satu lagi tidak ingin bersekolah karena telah bekerja.
Menanggapi hal itu Ririn pun sempat mendatangi rumahnya. Alhasil, ia berhasil membujuk salah satu dari dua anak tersebut.
“Saya mencoba menyemangati dan merayu. Saya kasih tahu kalau pendidikan itu penting,” tegas Ririn.
Kedua anak tersebut menjadi potret SMAN 1 Wonoayu. Karena itu pekerjaan rumah Ririn yang utama yakni menyemangati anak-anak untuk semangat sekolah dan menuntut ilmu.
Wanita yang dilantik 12 Februar 2024 itu rencananya menerapkan program sekolah berbasis kearifan lokal yang ada di Wonoayu. Pasalnya, ada potensi yang membuahkan prestasi di tengah masih adanya kekurangan motivasi belajar anak-anak.
Salah satu peserta didik berhasil meraih SMA Award tingkat Jawa Timur. Ia adalah Rendy Aditya Pratama.

Gelaran tersebut sangat prestigious di tingkat Jawa Timur. Karena seleksinya berjenjang dan harus berkompetisi dengan anak-anak terbaik se provinsi.
Ia pun akan memaksimalkan potensi desa sekitar sekolah untuk diberikan dorongan. Salah satunya desa yang terdapat Kampung Lali Gadget.
“Kampung itu bagus. Kebetulan pendirinya alumni SMAN 1 Wonoayu,” kata Ririn.
Pihak sekolah akan berkolaborasi untuk memaksimalkan kampung tersebut sekaligus sebagai sarana edukasi bagi peserta didik SMAN 1 Wonoayu.
Selain itu, Ririn berencana menjadikan SMAN 1 Wonoayu sebagai sekolah double tracks. Sekolah yang memiliki keunggulan dalam memberikan layanan pendidikan dan keterampilan bagi peserta didik.
“Anak-anak akan kita bina dengan tambahan keterampilan. Tambahan itu akan diberikan di ekstrakurikuler,” terang Ririn.
Ekstrakurikuler yang tak seperti biasanya. Yang memberikan kemampuan life skills atau keahlian supaya mereka bisa bekerja.
Artinya, anak-anak bisa mandiri untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri setelah lulus.
Yang lebih menarik lagi, terdapat kelas menghafal Alquran di SMAN 1 Wonoayu. Dan ada beberapa peserta didik yang berhasil menghafal beberapa juz selama di sekolah.
“Ada yang sebelum sekolah sini belum hafal. Jadi, hafalannya setelah masuk SMAN 1 Wonoayu. Jumlah hafalan 10 juz loh. Kan luar biasa,” kata Ririn.
Dari fenomena itu, pihak sekolah bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama untuk menguji dan memberi bimbingan kepada para penghafal Alquran.








