
Ternyata tak semua orang memiliki keinginan untuk menempati jabatan yang prestigious atau karir puncak dalam sebuah profesi. Pasalnya, tak sedikit dari mereka ketika dapat menempati posisi tersebut dikarenakan adanya dorongan atau dukungan orang lain.
Itulah yang dialami oleh Kepala SMPN 3 Porong Ikromilah Yety Prastuti, S.PSi., S.Pd. Ia salah satu kepala sekolah baru dari 13 kepala sekolah yang dilantik bupati tahun 2022.
Yety mengaku, sejak mengabdi sebagai guru BK di SMPN 1 Tulangan ia sudah puas dengan jabatan tersebut. Tak pernah terpikir untuk ikut seleksi atau ujian menjadi kepala sekolah. “Maunya sih jadi guru saja,” ngakunya.
Namun kenyataan berkata lain, karena Kepala SMPN 1 Tulangan waktu itu Drs. Bacheramsyah, M.Pd menginginkan Yety untuk ikut seleksi. Dan ternyata dari sekolah tersebut hanya ada satu guru yang mengikuti ujian seleksi kepala sekolah yang dilaksanakan tahun 2019 lalu.
“Kalau guru-guru yang lain boleh ndak ikut seleksi kepala sekolah, tapi Bu Yety harus ikut,” kata Yety menirukan ucapan Bacheramsyah waktu itu.
Yety menambahkan, kepercayaan dari Bacheramsyah sangat berat untuk ia jalani. Selain tidak pernah berambisi menjadi kepala sekolah juga ada ujian S2 yang harus ia jalani bersamaan dengan tes kepala sekolah.
“Waduh, Pak Bacher bilang begitu jadi bingung saya. Akhirnya, ya sudah tak coba meskipun berat,” kata Yety.
Sehingga, dalam waktu yang bersamaan pula ia mempersiapkan 2 momen basar dalam hidupnya. Hanya berselang 2 hari, setelah menjalani ujian kepala sekolah ia melanjutkan mengikuti ujian tesis.
Namun sebelumnya, ia harus memotivasi dirinya dengan niat tulus jika kelak berhasil melewati ujian kepala sekolah. Artinya, jabatan kepala sekolah merupakan jabatan yang berdampak sangat besar bagi orang banyak.
“Diniati jadi orang yang bermafaat saja jika jadi kepala sekolah,” ungkap guru BK itu.

Ia pun mengatakan, sempat terbersit untuk memilih salah satu dari ujian tersebut. Hal itu dikarenakan materi ujian keduanya tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi, berkat dukungan kawan, keluarga, dan orang terdekat lainnya Yety bisa menyelesaikan keduanya secara maksimal.
“Banyak yang bilang, ‘pasti bisa’ jadi berusaha untuk bisa meskipun berat,” kata Yety.
Ada kemungkinan, lanjut Yety, Bacheramsyah waktu itu melihat dirinya memiliki potensi leadership untuk mengelola sekolah. Pasalnya, selain jadi guru BK ia juga sempat menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kehumasan.
“Setiap kali Pak Bacher berhalangan, beliau sering menyuruh saya mewakili,” kata Yety.
Yety menjelaskan bahwa menjelang ujian kepala sekolah ia juga harus menyelesaikan bab akhir dari tesisnya. Saat itu ia fokus mengerjakan bab 5 hingga 6.
Usai dilantik dan ditempatkan di SMPN 3 Porong Yety merasa mendapatkan tantangan lagi dari sekolah. Pasalnya, data yang tertuang dalam laporan hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) terdapat raport merah.
“Saya sempat kaget dan terkejut, kok ada merahnya di raport ANBK,” terang Yety.
Sehingga, sebagai pimpinan sekolah yang baru berkewajiban mengubah raport tersebut menjadi hijau. Hal itu sekaligus menjadi tolok ukur keberhasilan Yety memimpin SMPN 3 Porong.
Namun, hingga saat ini ia masih memastikan dan mencari tahu penyebabnya merahnya raport tersebut. Pasalnya, warna merah berasal dari hasil ANBK dengan indikator asesmen yang berbuhungan dengan kekerasan seksual.
“Karena saya masih baru di sekolah ini, dan saya rasa tidak ada permasalahan atau kasus yang berhubungan dengan seksual di SMPN 3 Porong,” ungkap Yety.

Yety pun menjelaskan, bahwa ANBK merupakan asesmen nasional yang dilaksanakan secara nasional dengan melibatkan peserta didik langsung dalam mengisi angket. Ada kemungkinan, meskipun tidak ada kasus di sekolah anak-anak kurang mengerti dan memahami tentang pendidikan seksual.
“Bisa saja, karena anak-anak tak paham tentang pendidikan seksual itu apa,” jelas Yety.
Berdasarkan pada permasalahan tersebut, Yety dan guru-guru berencana membuat program khusus untuk peningkatan wawasan tersebut kepada anak-anak. Bahkan ia juga menggandeng pihak luar untuk memberikan materi kepada anak-anak.
“Kami berkerja sama dengan pihak luar, yakni Griya Curhat Keluarga,” terang Yety.
Mereka akan menggelar sosialisasi terkait kekerasan seksual hingga cara pencegahan. Tetapi sebelumnya akan dilakukan asesmen dan survei kepada anak-anak yang dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama.
“Intinya, kami ingin menghapus 3 dosa besar pendidikan. Kami mulai secara bertahap dan berkesinambungan,” terang Yety.
Yety menjabarkan bahwa 3 dosa besar itu terdiri dari intoleransi; kekerasan seksual; dan perundungan. Sehingga, tidak cukup keberhasilan pendidikan di sekolah diukur dari fasilitas atau sarana dan prasarana saja.
“Kenyaman itu bukan hanya perkara fisik saja, karena ada kenyamanan psikologis,” kata Yety.
Sebagai kepala sekolah yang baru Yety pun memiliki target capaian tertentu untuk SMPN 3 Porong. Ia berencana mengembangkan kearifan lokal khas Porong berupa tari tradisional.
Ia terinspirasi dari tari-tarian khas Sidoarjo seperti Tari Udang Bandeng dan Kupang Ronjot. Dan ia mengamati bahwa Porong sendiri memiliki kekhasan yang terkenal secara nasional karena adanya lumpur Lapindo.
“Saya melihat Porong ini memiliki potensi khas yang sudah terkenal, sepertinya dibuatkan tari khas yang bercerita tentang Porong, bagus,” inginnya.








