Memberi Solusi Masalah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Maya Puspita Yosin sedang menunjukkan aktivitas Ruang Sumber di SD Kemala Bhayangkari 10 Porong

Saat ini lembaga pendidikan sedang gencar-gencarnya menyediakan pendidikan layak dan ramah bagi anak-anak. Banyak hal dilakukan para pimpinan sekolah untuk bisa memberikan pelayanan maksimal tanpa membeda-bedakan.

Lembaga pendidikan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, lembaga pendidikan harus bisa melayani anak-anak tanpa memandang kekurangan ataupun kelemahan pada anak.

Itulah yang dikatakan kepala SD Bhayangkari 10 Porong, Sidoarjo Arif Sumardi, S.Pd saat ditemui di sekolah. Karena itu, sekolah yang ia pimpin terus berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik, terutama kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

Ia menambahkan, pelayanan itu tak hanya diberikan oleh sekolah-sekolah milik pemerintah, tetapi juga sekolah-sekolah swasta. Saat ini sekolah-sekolah swasta juga sedang memulai dan mengupayakan memberikan pendidikan tanpa diskriminasi.

Karena itu, SD Kemala Bhayangkari 10 Porong terus berbenah dan berinovasi supaya menjadi lembaga pendidikan yang tak hanya memberikan layanan bagi peserta didik reguler saja.

Wujud nyata atas usaha tersebut yakni dengan disediakannya ruangan khusus bagi anak-anak dengan hambatan. Ruang khusus tersebut bernama Ruang Sumber.

Memang, beberapa sekolah sudah menyediakan ruang tersebut, tetapi di Sidoarjo keberadaan Ruang Sumber masih tidak banyak ditemukan. Yang bisa kita jumpai yakni di SDN Sidokerto dan beberapa sekolah lainnya.

Karena sekolah tersebut jadi salah satu sekolah rujukan di Jawa Timur dalam memberikan pendidikan layanan khusus.

Arif menjelaskan, penyediaan Ruang Sumber bagi anak-anak dengan hambatan adalah sebuah keniscayaan. Pasalnya, ruang tersebut menjadi solusi bagi anak-anak dan orangtua mendapatkan menyelesaikan permasalahan anak-anak. 

“Ruangan tersebut jadi solusi permasalahan anak-anak dengan hambatan. Pasalnya, ada momen tertentu bagi mereka untuk masuk ruang sumber”, terang Arif.

Sehingga, Ruang Sumber wajib ada di Bhayangkari 10. Karena sangat membantu menyelesaikan aspek ketuntasan pendidikan abk.

Arif menambahkan bahwa keberadaan ruangan tersebut juga harus dikelola secara khusus. Artinya, tidak hanya disediakan ruang saja tanpa ada pengelolaan yang terstruktur dan sistematis. “Di sini kami sediakan guru khusus yang bertanggung jawab di Ruang Sumber,” tegasnya.

Guru yang diberikan tanggung jawab tidak hanya memiliki pengetahuan tentang abk, tetapi juga memiliki passion dan berjiwa sosial yang tinggi terhadap keberadaan anak-anak. Karena itu, pihak sekolah menunjuk Maya Puspita Yosin menjadi kepala Ruang Sumber.

Adanya Maya di Kemala Bhayangkari 10 memiliki peran penting untuk mengawasi kondisi abk di kelas reguler. Juga menyiapkan perangkat pembelajaran bagi mereka jika ada materi yang kurang jelas di kelas reguler.

Maya juga bertanggung jawab memberikan wawasan kepada abk dan orangtua. Karena itu, ia memiliki banyak cara dalam mengelola Ruang Sumber.

Saat ditemui Maya mengaku, butuh usaha ekstra dalam memberikan pendidikan kepada mereka. Pasalnya, sebagian dari mereka tidak memiliki kemampuan verbal untuk diajak bicara. Sehingga, harus disiapkan media aternatif supaya mereka mengerti.

Maya Puspita Yosin menunjukkan hasil kerajinan anak-anak di Ruang Sumber.

“Di ruang sumber saya siapkan media gambar dan lain-lain. Kita tunjukkan ke mereka sekiranya mana yang cocok,” terang Maya

Selama ini, terang Maya, gambar jadi media paling efektif untuk memberikan materi kepada anak-anak. Kemudian gambar tersebut dikombinasikan dengan permainan ringan yang bisa mereka ikuti.

Alat peraga lainnya, berupa media permainan juga banyak disediakan di Ruang Sumber. Anak-anak bisa memilih sesuai dengan yang mereka inginkan. Selain itu, supaya pembelajaran tidak membosankan bagi mereka.

Meski baru satu tahun beroperasi, dalam seminggu ruangan tersebut tidak pernah sepi pelayanan. Tercatat 2 hingga 3 kali anak-anak masuk ruangan tersebut.

Hal itu yang mendorong pihak sekolah bersama yayasan terus mencukupi berbagai kebutuhan ruangan secara bertahap.

Maya pun diminta banyak memberikan masukan terkait pengembangan Ruang Sumber. Meskipun ia bukan guru yang secara keilmuan linier dengan pendidikan khusus.

Antusias Maya kepada anak-anaklah menjadi acuan pihak sekolah untuk diberikan amanah mengelola ruangan. Ia pun antusias mengikuti berbagai pelatihan pendidikan khusus dan juga berkomunikasi dengan pengurus Pokja Inklusi di Sidoarjo.

Maya merupakan guru baru di Kemala Bhayangkari 10, tetapi ia ternyata memiliki pengalaman menangani anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah lamanya.

Saat ini Ruang Sumber telah melayani 5 anak dengan hambatan berbeda. Mereka berasal dari kelas 2, 3, dan 5. Mereka terdiri dari beberapa hambatan di antaranya tangan yang tidak bisa digunakan untuk beraktivitas dan lemah secara fisik.

Selain itu, di Kemala Bhayangkari 10 juga terdapat anak abk baru dengan hambatan karena kecelakaan.

Selama melayani abk, Kemala Bhayangkari 10 masih belum mengandalkan guru shadow yang biasanya menjadi tanggungan masing-masing orangtua. Guru-guru kelas di sekolah tersebut masih menjadi andalan dalam memberikan pendidikan.

Pihak sekolah menyarankan semua guru untuk proaktif mencari ilmu dalam memberikan pelayanan khusus. Pasalnya, Ruang Sumber dan pelayanan abk di Kemala Bhayangkari 10 menjadi pilot project nasional bagi Yayasan Pendidikan Kemala Bhayangkari.

Arif pun mengakui bahwa asesmen masih belum bisa dilakukan secara maksimal di Ruang Sumber. Namun, ada target sekolah untuk menyediakan fasilitas asesmen. Target lainnya yang tak kalah penting menyamakan pemahaman kepada orangtua.

“Sempat ada anak yang awalnya normal kemudian menjadi abk karena kecelakaan,” terang Arif.

Sehingga butuh memberikan pemahaman khusus kepada orangtuanya supaya pembelajaran juga bisa dilakukan di rumah. Konsultasi terus dilakukan supaya target pendidikan dapat tercapai.

Guru dan orangtua diharapkan paham dengan indikasi anak-anak abk. Sehingga untuk mencapai hal itu dibutuhkan proses memahami tanda-tanda pada anak.

Saat ini ruang sumber juga telah berkoordinasi dengan guru kesenian. Aspek kesenian dipercaya menjadi alternatif supaya media dan materi pembelajaran menarik bagi anak-anak. Seperti media gambar yang digunakan untuk memberikan intruksi anak-anak.

“Contohnya gambar intruksi ini, butuh sentuhan seni supaya menarik bagi anak-anak,” terang Maya.

Kalau mereka sudah tertarik maka untuk melanjutkan pembelajaran akan lebih mudah. Artinya, butuh banyak pihak yang dilibatkan dalam memaksimalkan Ruang Sumber. 

Kepala SD Kemala Bhayangkari 10 Porong Arif Sumardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *