
Oleh: Nawawi A. Manan
Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo, jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).
“Kalau diundang walimah mereka datang, tetapi berkatnya dibuang karena mereka anggap bagian dari api neraka,” kata teman saya — pada awal 1970-an — menceritakan orang-orang di kampungnya yang mengklaim hanya berpedoman pada Quran-Hadis.
Warga Nahdliyin juga mengundang mereka dalam kenduri atau selamatan, tetapi mereka tidak mau hadir karena menganggap kegiatan itu termasuk perbuatan tahayul, bid’ah, dan khurafat (TBC).
Kenduri atau selamatan bukan kegiatan ritual adopsi atau akulturasi ajaran Hindu-Budha, karena dalam kedua agama tersbeut tidak ditemukan ajaran kenduri.
Sejarawan NU Agus Sunyoto – teman seangkatan saya di Jawa Pos – “kenduri” dari bahasa Persia “kanduri”, yaitu makan-makan dalam peringatan wafatnya Fatimah Az-Zahra, puteri Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, penganan yang disajikan dalam kenduri diciptakan para wali untuk menyampaikan pesan-pesan ajaran Islam, terdiri atas: apem, walak-walik (wingko), rukuk-rukuk (koci-koci), berubi (nagasari), jada (tetel putih), lemper, wajik, dan gedang (pisang).
- Apem
Apem dari kata afuwun, dari kalimat doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk menyambut Lailatul Qadar: Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku).
- Walak-walik
Kata walak-walik dari fa lakal hamdu wa lakasy syukru dalam doa diajarkan Rasulullah SAW (Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku di waktu pagi atau yang ada pada setiap makhluk-Mu, semuanya hanya dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur).
- Lemper
Lemper berarti yen dilem atimu aja memper (jika dipuji jangan sombong, harus tetap rendah hati atau tawadhu’). Dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan: Innallaha awhaa ilayya an tawaadha’u (Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar bersikap tawadhu’).
- Rukuk-rukuk
Rukuk-rukuk berasal dari surat Al-Baqarah ayat 43: Wa aqiimush-shalaata wa aatuz-zakaata warka’ụ ma’ar-raaki’iin (Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk).
- Jada/Tetel
Jada dari kalimat man jadda wa jadda (orang yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Dasar kalimat ini ialah surat Al-Ankabut 69: Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa…(Dan kami benar-benar akan memberikan jalan-jalan terhadap orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan kami…).
- Nagasari/Berubi
Nagasari juga disebut berubi, dari lafal “bi rabbi”. Bisa dari: Qul a’ụdzu birabbin-naas (Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai manusia).
- Wajik
Wajik atau ketan salak. Wajik dari lafal “wa jii’a”, dalam surat Al-Fajr 23: Wa jii`a yauma`idzim bijahannama yauma`idziy yatadzakkarul-insaanu wa anna lahudz-dzikraa (Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya).
- Pisang
Dalam bahasa Jawa, pisang disebut gedang, dari kata ghadin, dari surat Al-Hasyr ayat 18: Yaa ayyuhalladziina aamanut-taqullaaha waltandzur nafsum maa qaddamat lighadin (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok/akhirat).
Karena ketidakpahaman, sejak 1970-an pakem tersebut berubah, dikurangi atau diganti dengan jenis kue lain. Perubahan paling ekstrem, semua jajanan diganti dengan roti bulat besar. Roti identik dengan Belanda karena yang membawa ke Indonesia orang-orang Belanda.
Dalam Bahasa Belanda, roti disebut brood. Orang Jawa menyebut roti dari tembung lara ati, karena kehadiran penjajah Belanda mengakibatkan kesengsaraan dan ngelarakna ati. Orang makan roti berarti mengekspresikan kemarahan dan berusaha mengenyahkan penjajah dari Tanah Nusantara.
Penganan tersebut dimasukkan dalam wadah daun pisang disebut “takir” dari lafal “dzakkir” (peringatan), dari surat Az-Zariyat 55: Wa dzakkir fa innadz-dzikraa tanfa’ul-mu’miniin (Teruslah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin).
Penganan, nasi, dan lauk dalam takir disebut berkat, dari salah satu bait dalam kitab Maulid Ad-Diba’i yang dibaca untuk menjaga diri dari sikap atau perbuatan tercela: Rabbi fanfa’na bibarkatihim wahdinal husna bihurmatihim, wa amitnaa fii thariiqatihim wa mu’aafaatin minal fitani (Tuhanku, berilah kami kemanfaatan dengan keberkahan mereka, dan tunjukkan kami pada kebaikan sebab kemuliaan mereka, dan matikan kami dalam jalan mereka, dan diselamatkan dari fitnah.”
Jika ada orang menganggap berkat bagian dari api neraka, para santri menyebut: huwa al-ngawuru!







