Memulai Karir di Daerah 3T

Kepala SMPN 3 Waru Mas Husein bersama istri Siti Habibah.

Menjalani karir sebagai seorang guru di daerah terpencil atau jauh dari perkotaan butuh tekad dan perjuangan yang tak ternilai. Hal itulah yang pernah dirasakan Mas Husein, sebelum ia menjabat sebagai kepala SMPN 3 Waru.

Kurang lebih selama 10 tahun ia menjalani profesi sebagai pengajar di sekolah 1 atap Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Berbagai kisah dan pengalaman ia ceritakan saat mengajar di kampung yang dikelilingi tambak tersebut.

Kepada PENA Husein memulainya dengan menjelaskan jarak rumah ke sekolah yang kurang lebih sekitar 24 Kilometer. Setiap hari jarak tersebut ia tempuh dengan 2 macam alat transportasi, yakni sepeda motor dan perahu. “Setiap hari pulang pergi, tapi kadang ndak pulang,” ungkapnya.

Kondisi jalan dengan jarak 24 Kilometer tersebut tidak seperti jalan pada umumnya. Pasalnya, untuk menjangkau Dusun Kepetingan harus melewati pematang tambak yang jalannya tak beraspal dan pastinya dengan karakter tanah tambak yang berbeda dengan tanah tempat lain.

Berdebu saat musim kemarau dan berlumpur pekat ketika musim hujan jadi teman perjalanan Husein selama menjalani profesinya. Adapun tantangan lainnya, yakni lupa jalan alias tersasar karena salah pilih jalur saat di pertigaan atau perempatan.

Namun, bagi Husein hal itu wajar karena jalan tambak saat itu belum ada petunjuk arah seperti di jalan raya atau umum. Dan ia mengaku sering kali tersasar. “Ya tidak sekali dua kali ia mengalami itu,” ungkapnya.

Suhu panas di siang hari ketika mengajar juga harus ia rasakan setiap hari. Karena Kepetingan merupakan daerah pesisir yang karakter dominannya adalah terik matahari dan air asin. Yang menantang lagi yakni kondisi saat musim hujan.

Bagi Husein, apapun yang terjadi ia bertekad untuk tetap memberikan sumbangsih ilmu kepada anak-anak. “Lah memang kondisinya seperti itu. Pastinya, tak banyak guru mau mengajar di sana,” ungkapnya.

Musim hujan mengharuskan Husein dan guru lainnya harus menggunakan perahu untuk menjangkau sekolah. Karena kondisi jalan tambak yang sangat sulit dilewati karena berlumpur dan licin. “Kalau musim hujan jalan jadi lumpur. Licin dan lumpurnya nempel di ban dan lama-lama ban ndak bisa muter,” terang Husein.

Namun hal berbeda ia temukan saat beberapa bulan lalu berkunjung ke Kepetingan. Ia sempat terkejut dengan kondisi jalan menuju dusun. Jalan yang sebelum tahun 2013 lalu berupa tanah sekarang telah dipaving. Dan lebarnya cukup untuk dilewati dua kendaraan roda 2 ketika berpapasan. “Alhamdulillah, saya lihat sekarang sudah banyak perubahan,” ungkapnya.

Kondisi mengajar di Dusun Kepetingan saat Mas Husein menjadi guru 3T.

Artinya, pemerintah dan stakeholder telah memberikan perhatian kepada masyarakat di Kepetingan. Terutama untuk menunjang kebutuhan pendidikan anak-anak. “Dulu sama sekarang beda jauh. Alhamdulillah,” kata Husein.

Setelah lebih dari 10 tahun di Kepetingan Husein akhirnya pindah tugas ke SMPN 2 Waru. Tentu saja sosoknya jadi teladan karena pengabdian dan sumbangsih nyata kepada pendidikan yang jarang dilakoni pendidik atau guru pada umumnya.

Di SMP itu ia banyak memberikan kisah tentang mengajar di tempat yang terbatas fasilitas maupun peserta didiknya. Selain itu, wawasan dan keinginan kuat untuk mengajar dan mendidik perlu untuk didorong demi kemajuan sekolah.

Selama 4 tahun di SMPN 2 Waru tak sedikit kisah itu dibagikan oleh Husein. Dari pengalamannya, ia ingin semua guru memiliki spirit tidak hanya mengajar dan mendidik tetapi juga ikhlas dalam mengusahakan kebutuhan anak-anak untuk menuntut ilmu.

Seperti di daerah terpencil lainnya, seorang guru harus memiliki kemampuan selain mengajar mata pelajaran. Artinya, ada soft skill atau keterampilan lain yang harus dimiliki untuk memancing dan mengembangkan potensi anak-anak.

Husein pun melakukan hal itu dengan meluangkan waktunya setelah menyelesaikan jam mengajar. Ia memberikan kegiatan tambahan di sekolah satu atap dengan kegiatan kesenian, yakni albanjari.

“Saya coba perlihatkan mereka (anak-anak) orang bermain bajari, kemudian mereka tertarik, ya sudah saya bantu,” terang Husein. 

Ketertarikan anak-anak terhadap banjari akhirnya diwadahi dan difasilitasi oleh Husein. Berbekal pengalaman menjadi kepala MTs NU Berbek, Kecamatan Waru ia akhirnya mengajak guru banjari untuk ikut meluangkan waktu mengajar albanjari di Kepetingan. Alat atau terbang banjarinya pun didatangkan dari sekolah NU itu.

“Kebetulan waktu saya jadi kepala sekolah di sana dapat bantuan terbang banjari. Kemudian saya pinjamkan ke sekolah Kepetingan dan saya arahkan,” kata Husein.

Terbang banjari di Kepetingan tidak hanya sebagai sarana anak-anak untuk berkesenian tetapi juga mendorong mereka untuk menekuni ilmu agama dengan cara gemar bersalawat dan bermain musik.

Hal menarik lainnya yang digambarkan oleh Husein yakni anak-anak Kepetingan merupakan anak-anak yang cerdas. Gambaran itu tampak saat proses belajar mengajar di kelas.

“Mereka itu kalau diajari itu cepat nyantol. Mungkin karena faktor nutrisi yang sebagian besar makanannya terbuat dari ikan dan dimasak secara alami,” terang Husein.

Selain itu, tak sedikit lulusan sekolah satu atap Kepetingan merupakan lulusan perguruan tinggi dengan predikat baik. Hal itu terbukti dengan penempatan posisi strategis di instansi pemerintah atau swasta. Tak sedikit pula lulusan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi favorit.

“Kalau dilihat dari penampilan, mereka itu tidak tampak seperti anak pintar. Namun, bisa dibuktikan saat SMA atau SMK, nilainya selalu menonjol,” ungkap  Husein. 

Namun, lanjut Husein, potensi-potensi anak Kepetingan tidak sepenuhnya dimanfaatkan atau dirasakan oleh warga Kepetingan. Penyebabnya yakni  perpindahan penduduk karena menikah dengan warga di luar Kepetingan, kemudian mereka ikut keluarga barunya.

Saat menjadi guru Husein berharap Kepetingan jadi sebuah destinasi yang maju dan berkembang, meskipun jauh dari perkotaan. Untuk membangun dusun tersebut, sumber daya manusia harus ditunjang dengan fasilitas dan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat.

Kabar baiknya, pembangunan di Kepetingan terutama infrastruktur sudah banyak mengalami perbaikan. Hal itu akan menjadi sarana untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat tanpa terbatas waktu atau tanpa tergantung musim.

Pemerintah juga memberikan perhatian secara bertahap. Sejak 2013 lalu perhatian pemerintah ditunjukkan dengan memberikan bantuan seperti perahu khusus untuk guru-guru yang mengajar di Kepetingan. Suplai bahan bakar perahu dan kebutuhan lainnya juga dicukupi pemerintah.

Ia ingin selama menjabat sebagai kepala SMPN 3 Waru semangat seperti mengajar di Kepetingan tetap ada. Dan juga akan ditularkan kepada guru-guru lainnya.

“Mengabdi di sekolah yang aksesnya mudah harus disyukuri dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Karena, masih banyak guru-guru yang mengajar di tempat terpencil tapi memiliki semangat luar biasa dan rela berkorban demi pendidikan anak-anak,” pungkas Husein.

Aktivitas setiap hari Mas Husein menjangkau Dusun Kepetingan saat musim hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar