Terbitkan 1000 Buku

Siti Nafiyah, S.Pd Kepala SMPN 2 Sedati

Siti Nafiyah, S.Pd diapit tim Paskib SMPN 2 Sedati.

Selain Supriyanto, SE., M.Pd SMPN 1 Tulangan ternyata juga memberangkatkan seorang guru lagi untuk menjadi kepala sekolah pada awal 2024 lalu. Ia adalah Siti Nafiyah, S.Pd yang saat ini bertugas memimpin SMPN 2 Sedati.

Ia mengatakan, sebelumnya ia adalah seorang guru Pendidikan Bahasa Inggris. Motivasinya mengikuti seleksi kepala sekolah karena ingin meningkatkan mutu pendidikan.

“Sebelumanya, saya ikut program guru penggerak. Program itu menjadi jenjang untuk naik ke kepala sekolah,” kata Nafiyah.

Selama ikut program tersebut ia menerima berbagai macam materi. Mulai dari paradigma pendidikan hingga kiat-kiat menciptakan mutu pendidikan. Terutama, bekal mengelola lembaga pendidikan.

Usai menerima pendidikan tersebut, ia merasa harus mengimplementasikan ilmu dan pemikiran saat jadi guru penggerak. Sehingga, jadi kepala sekolah merupakan alternatif utama dalam menciptakan mutu pendidikan.

Pasalnya, kepala sekolah pemegang arah dan penentu kebijakan di sekolah. Namun, harus didukung seluruh civitas pendidikan yang ada di sekolah. Selain itu, sumber daya manusia yang ada di sekolah juga harus mumpuni.

Memperingati bulan Suci Ramadan bersama guru-guru SMPN 2 Sedati.

Nafiyah sapaannya, merasa penempatan di SMPN 2 Sedati adalah hal yang tepat. Pasalnya, kultur di sekolah itu sangat mendukung kebijakan yang bersifat inovatif. Meskipun jarak dari rumah cukup jauh.

Di awal kepemimpinannya tahun ini, ia berencana menerbitkan 1000 buku. Meskipun terkesan berat, ia berkeyakinan akan terwujud. Karena strategi dan rencana telah dipersiapkan dan dilaksanakan mulai awal tahun.

“Kami membentuk tim yang akan mengurusi itu sejak awal tahun ini,” kata Nafiyah.

Menurutnya, jumlah 1000 dapat terpenuhi karena jumlah peserta didik sebanyak 960 anak. Kemudian, ditambah jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sebanyak 50 orang.

Karya mereka, lanjut Nafiyah, berupa puisi, cerpen, dan catatan keseharian selama bersekolah. Setiap hari Sabtu catatan selama seminggu kebelakang dikumpulkan ke koordinator literasi sekolah. Kemudian catatan tersebut dikumpulkan.

Nafiyah menjelaskan, untuk kelas 7 anak-anak menyetorkan karya tulis berupa jurnal syukur. Artinya, jurnal yang ditulis berbentuk ungkapan rasa syukur setiap hari. Sedangkan kelas 8, menulis refleksi diri. Ditambah kelas 9 menulis pentigraf (cerpen tiga paragraf).

“Kami memanfaatkan pengalaman dan kesan-kesan yang berbeda yang dimiliki setiap anak-anak setiap hari,” terang Nafiyah.

Kegiatan bersih-bersih di sekolah.

Untuk menunjang program tersebut, pihak sekolah menghadirkan para penggiat literasi salah satunya Aliansi Wartawan Online Sidoarjo (AWOS) dan beberapa komunitas menulis lainnya. Peran mereka tidak hanya memberi pelatihan kepada anak-anak tetapi juga warga sekolah lainnya.

Nafiyah mengaku, penguatan literasi juga merupakan pesan kepala sekolah sebelumnya. Saat lepas pisah ia diminta meneruskan kultur literasi yang telah terbangun di SMPN 2 Sedati.

“Amanat dari kepala sebelumnya untuk melanjutkan giat literasi,” terang mantan guru Bahasa Inggris itu.

Selain itu, program literasi yang ia jalankan di sekolah berharap mendapat keberhasilan. Sehingga akan berdampak dalam mendukung raport sekolah yang nantinya mendapat bantuan berupa BOS Kinerja Prestasi.

Bantuan tersebut rencananya akan diperuntukkan untuk menunjang kegiatan anak-anak. Terutama untuk peningkatan kemampuan minat dan bakat anak-anak.

Nafiyah saat ini juga menggalakkan aspek numerasi. Pasalnya, tak sedikit guru-guru mengeluh bahwa anak-anak masih memiliki keterbatasan dalam hal hitung-hitungan. Anak-anak dimulai dengan diberikan soal-soal ringan hingga soal logika yang digunakan dalam keseharian.

Bersama anak-anak berprestasi.

“Masuk ke sini ternyata anak-anak masih belum bisa perkalian dan pembagian,” terang Hanifah.

Sehingga pada awal masuk SMP, mereka akan mendapatkan treatment khusus dari guru-guru berupa ilmu matematika dasar.

Salah satu hal penting untuk mendukung pendidikan di sekolah yakni memberlakukan sekolah tanpa HP bagi anak-anak. Hal itu jadi bentuk ketegasan sekolah untuk menciptakan suasana yang mendukung pendidikan.

“Sempat kita memberlakukan boleh bawa HP tapi dikumpulkan di locker sekolah, tetapi tidak berhasil karena anak-anak bisa membuka locker tersebut,” ujar Nafiyah.

Pemberlakuan sekolah tanpa HP itu dirasa memiliki banyak manfaat. Pasalnya, anak-anak yang selama ini seolah memiliki dunia sendiri dengan HP. Mereka tampak kurang berbaur dan kurang kreatif.

“Dulu kalau ada HP acara di sekolah terkesan sepi. Karena anak-anak main HP. Sekarang, karena tidak ada HP acara di sekolah rame,” terang Nafiyah.

Karena melarang bawa HP, anak-anak diberikan keluasan bermain di sekolah. Seperti main sepakbola, voli, musik, dan permainan yang lain. Pihak sekolah pun berusaha menyediakan kebutuhan untuk permainan anak-anak. Tak jarang pula, anak-anak bawa mainan sendiri dari rumah.

Bersama segenap dewan guru SMPN 2 Sedati.

“Dengan begitu anak-anak aktif. Dan itu baik untuk tumbuh-kembang anak,” jelas Nafiyah.

Ia juga mendorong anak-anak untuk berprestasi dan memiliki nilai sekolah di atas rata-rata. Pasalnya, SMPN 2 Sedati merupakan daerah black spot. Artinya, sulit mendapatkan jalur zonasi di SMA Negeri.

“Sekolah terdekat SMAN Gedangan. Tetapi, kalau diukur dari jarak sebenarnya jauh. Karena itu, kita tidak kebagian kalau masih pakai zonasi,” kata Hanifah.

Sehingga, ia bersama guru-guru sepakat untuk mengambil jalur prestasi. Dan, di sekolah anak-anak dioptimalkan berprestasi apapun bidangnya atau jenis bakatnya.

Hingga akhirnya, SMPN 2 Sedati sempat meraih medali perak di kejuaraan internasional karya tulis ilmiah di Malaysia. Anak-anak Sedati 2 menulis tentang teh hijau alami dari daun Mengkudu dan Biji Alpukat yang diekstrak yang diberi nama Sinoniavo. (Nis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *