Bangkit dari Kegagalan, BUMDES LEJAMA Desa Winong Sukses Panen Melon Grade A

Direktur BUMDES LEJAMA, Ririk Fidyaningsih
Direktur BUMDES LEJAMA, Ririk Fidyaningsih

Hamparan kebun melon seluas 8.000 meter persegi kini menghijau subur di Desa Winong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Lahan pertanian yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Lenong Jaya Makmur atau LEJAMA ini menjadi pemandangan baru yang membawa harapan bagi warga sekitar. Namun, siapa sangka kebun yang kini bersiap panen besar tersebut menyimpan cerita perjuangan yang tidak mudah.

Sebelum sukses seperti sekarang, BUMDES LEJAMA pernah menelan kepahitan gagal panen yang menguras kas desa. Kebangkitan mereka tak lepas dari intervensi Program Development Efficient Food Agriculture (DEFA) yang didukung oleh PT HM Sampoerna Tbk bekerja sama dengan STAPA Center. Melalui program ini, BUMDES diajak berbenah secara menyeluruh, mulai dari meja kantor pengurus hingga ke area berlumpur di lahan pertanian.

Pembenahan Manajemen dan Inspirasi dari BUMDES Lain

Perubahan besar pertama dimulai dari penguatan kapasitas pengurus BUMDES itu sendiri. Direktur BUMDES LEJAMA, Riri, menceritakan bahwa pada awalnya jajaran pengurus menghadapi kendala besar dalam menjalankan roda usaha desa.

“Manfaat dari program STAPA ini yaitu peningkatan kualitas, khususnya pada jajaran pengurus BUMDES. Di awal, jajaran pengurus baik direktur, sekretaris, maupun bendahara ini masih minim pengetahuan tentang manajerial atau tata kelola badan usaha yang sesuai,” ungkap Riri.

Melalui program local upgrading, para pengurus ditempa dengan berbagai materi penting. Riri menjelaskan bahwa pelatihan yang diberikan sangat lengkap, mulai dari cara mengelola keuangan sesuai standar akuntansi, hingga pemasaran produk secara online. Pengurus yang awalnya tidak paham cara berjualan di dunia maya, akhirnya diajarkan cara membuat video promosi, menyusun flyer, hingga merancang Business Model Canvas (BMC). Selain itu, program ini juga memfasilitasi BUMDES untuk lebih banyak berkolaborasi dan berdiskusi dengan berbagai pihak untuk menyusun rencana kerja yang matang.

Dampak nyata dari pelatihan manajerial ini sangat dirasakan oleh Bendahara BUMDES LEJAMA, Fatkhur Rokhman. Pembenahan sistem keuangan menjadi sangat krusial mengingat trauma masa lalu, di mana pada penanaman pertama BUMDES harus mengeluarkan modal antara Rp150 juta hingga Rp170 juta, namun hasil yang kembali hanya sekitar Rp24 juta. Kini, dengan manajemen yang tertata, penanaman kedua hanya membutuhkan modal efisien sebesar Rp70 juta.

Bendahara BUMDES LEJAMA, Fatkhur Rokhman
Bendahara BUMDES LEJAMA, Fatkhur Rokhman

Fatkhur membagikan satu momen pelatihan dari STAPA Center yang paling membuka mata para pengurus. “Ada satu momen penting yang menjadi pelajaran berharga buat kami. Waktu itu didatangkan perwakilan BUMDES besar yang sukses, seperti BUMDES di Desa Ketapanrame, Mojokerto, yang mengelola Taman Ganjaran,” ceritanya.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus BUMDES LEJAMA mendapat banyak tips dan pengalaman di lapangan tentang bagaimana pengelolaan keuangan BUMDES bisa berjalan optimal, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Kami juga bertemu dengan BUMDES-BUMDES lain yang ada di Kabupaten Pasuruan, sehingga bisa banyak belajar dari sesama pengurus,” tambah Fatkhur.

Perawatan Ekstra di Lapangan dan Senyum Keberhasilan

Manajemen keuangan yang sudah rapi tentu harus diimbangi dengan eksekusi yang tepat di lapangan. Menyadari bahwa menanam melon bukanlah perkara mudah, BUMDES LEJAMA akhirnya mengambil langkah taktis dengan mendatangkan dua tenaga ahli pertanian dari luar daerah, yakni Sudirman dan Darlan, untuk bekerja sama dengan empat petani lokal. Keduanya adalah petani kawakan yang sudah berpengalaman menanam garbis hingga timun mas sejak tahun 1999.

Di mata para ahli ini, lahan Tanah Kas Desa (TKD) Winong memiliki tantangan yang berat. Lahan tersebut dinilai kurang tinggi dan memiliki banyak bebatuan. Tantangan terbesar lainnya adalah lokasi kebun yang dikelilingi oleh tembok pabrik. Padahal, tanaman melon sangat membutuhkan angin yang tidak terhalang.

Sebagai solusi, Sudirman dan Darlan membuat aturan ketat agar tanaman melon memiliki jarak minimal 3 meter dari tembok pondok pabrik agar sirkulasi angin berjalan baik dan buah tumbuh maksimal. Mereka juga menekankan bahwa merawat melon tidak bisa disambi saat waktu luang saja. Melon cenderung sensitif, sehingga pengamatan dan perawatan harus dilakukan setiap hari. Jumlah pupuk pun harus disesuaikan secara presisi dengan kebutuhan riil tanaman, bukan sekadar mengikuti jadwal rutin yang justru berisiko merusak buah.

Taktik pemeliharaan yang disiplin itu diterapkan pada area seluas 8.000 meter persegi yang ditanami sekitar 11 ribu pohon melon jenis Amanda. Untuk menjaga ukuran dan kualitas, setiap pohon sengaja dibatasi dan hanya disisakan 2 hingga 3 buah saja.

Kini, kerja keras dari meja manajemen hingga ke kebun berlumpur itu membuahkan hasil yang memuaskan. Pada umur 65 hari, BUMDES LEJAMA berhasil melakukan panen awal buah masak pohon sebanyak 3 ton. Kualitas melon yang dihasilkan pun sangat baik, dengan berat per buah mencapai 1 hingga 3 kilogram, di mana lebih dari separuhnya berhasil masuk dalam kategori unggulan atau Grade A.

Amiril Mukminin, Kepala Desa Winong
Amiril Mukminin, Kepala Desa Winong

Melihat buah melon yang bergelantungan besar-besar, Kepala Desa Winong, Amiril Mukminin, akhirnya bisa bernapas lega. Pria yang dulunya berprofesi sebagai Babinsa ini sebelumnya memendam kekhawatiran yang cukup besar terhadap proyek pertanian di lahan TKD seluas lebih dari tiga hektar tersebut.

“Sempat merasa khawatir, apalagi mengingat pengalaman budidaya pertama yang buahnya kecil-kecil, puret kata orang Jawa,” kenang anak terakhir dari enam bersaudara ini.

Kini, kecemasan itu telah berganti menjadi rasa syukur yang mendalam. “Alhamdulillah, sekarang hasilnya memuaskan, besar-besar. Bahkan buahnya bisa dipilah-pilah mulai dari Grade A sampai Grade C,” pungkas Kepala Desa dengan senyum bangga melihat keberhasilan desanya bangkit dari keterpurukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *