Mewarisi Kartu Teplek Gus Dur

(Foto: istimewa)

Oleh Nawawi A. Manan

Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo, jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).

 

“Gus, ngopo ndadak gawe dekrit barang?” tanya Cak Nun, pagi hari setelah Gus Dur dimakzulkan dari jabatan presiden oleh MPR melalui Sidang Istimewa (SI), 23 Juli 2001.

Gus Dur menjawab dengan santai, “Lha wis suwe ora ana dekrit, Cak!”

“Ya, tapi kan mikir sik, Gus. Diitung sik.… Lha ning kan terus (Sampeyan) dipecat kaya ngene aku repot, Gus,” bantah Cak Nun.

“Ya, Cak… jenenge wong teplek kadang menang kadang kalah,” jawab Gus Dur.

Penyesalan  Cak Nun terhadap dekrit dikeluarkan Gus Dur pada 23 Juli 2023, pukul  01.30 WIB,  mewakili  penyesalan banyak orang.  Mereka menganggap Gus Dur dilengserkan oleh MPR karena mengeluarkan dekrit.

Gus Dur menjawab pertanyaan Cak Nun dengan guyon karena sesungguhnya MPR melengserkan Gus Dur bukan karena dekrit, melainkan banyak individu, lembaga, pengusaha, maupun kelompok negara  terancam  kehadiran Gus Dur sebagai Presiden RI. Tuduhan melakukan korupsi atas Dana Yanatera Bulog, korupsi dana bantuan Sultan Brunei Darussaalam, dan lain-lain hanya  alat sebagai pintu masuk  untuk menggulingkan Gus Dur.

Setelah Uni Soviet ambruk (1991), sistem dwi-kutub Perang Dingin berakhir dan akan digantikan skenario hegemoni unipolar dengan AS sebagai penguasa tunggal. Rencana Gus Dur membentuk Poros Jakarta – Beijing – Tokyo – New Delhi untuk menciptakan balancing power (kekuatan penyeimbang) di luar kendali AS  bisa menggagalkan sekenario  besar AS menguasai  dunia.

Kehadiran Gus Dur juga memupus harapan beberapa negara yang telah bersiap mencaplok  Aceh, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.  Banyak pengusaha swasta asing — terutama  Freeport — kehilangan sumber kekayaannya karena Gus Dur tidak mau memerpanjang kontrak karya dengan mereka.

Ketika melakukan pengumpulan data untuk menulis buku tentang kontroversi Gus Dur (Membangun Demokrasi melalui Kontroversi) selama 2 tahun (2001-2002), saya mendapat simpulan  bahwa  jika Gus Dur dibiarkan menjabat sampai  2024 seluruh pejabat Orde Baru yang tidak bersih akan masuk penjara. Dan, jika korupi pada masa Orde Baru diusut tuntas, lebih dari 50 persen anggota DPR/MPR 1999-2004  masuk penjara.

Memorandum I, Memorandum II, dan SI MPR hanya permainan mereka dengan memeralat  para oknum petinggi TNI, pejabat  Orde Baru, dan para politisi bermental inferior yang tidak kuat menahan syahwat kekuasaan. Dekrit  dikeluarkan Gus Dur bukan untuk melawan, melainkan untuk mengingatkan bahwa mereka melakukan kudeta dengan menggunakan lembaga tinggi negara.

Yang harus dijadikan pelajaran,  Gus Dur mengibaratkan  tindakannya menghadapi MPR dengan permainan kartu teplek.  Tidak berarti Gus Dur menyamakan urusan kenegaraan dengan permainan judi, tetapi  tidak menganggap jabatan sebagai keluarbiasaan yang harus dipertahankan  mati-matian.

Pada sepanjang masa kekuasaan Soeharto, terutama setelah menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Dur mengorbankan dirinya untuk memerjuangkan demokrasi, kesataraan, dan keadilan —  terutama bagi warga negara terpinggirkan dan rakyat kecil tertindas. Akan tetapi, ketika kedudukannya terancam, dia merelakan tanpa beban.

Tidak seperti para politisi dan  tokoh-tokoh  berpola pikir sekular atau atheis, dalam keseluruhan hidupnya  Gus Dur  berpedoman  pada konstitusi tertinggi, bahwa  “kehidupan dunia ini hanyalah permainan…; kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memerdaya” (Al-Hadid: 20). Hal itu dibuktikan dengan quote yang tidak pernah dikatakan oleh tokoh mana pun, “Tidak ada jabatan yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah rakyat.”

Kader NU dan semua orang merasa sebagai kader atau pecinta Gus Dur harus mewarisi kartu teplek Gus Dur dan memainkan di tengah-tengah masyarakat, paling tidak untuk memproteksi diri sendiri dari pengaruh permainan para negarawan kacangan. Generasi marjinal yang telah terangkat dari lembah nestapa oleh pengorbanan  Gus Dur, yang seharusnya melestarikan permainan Gus Dur, justeru menjadi Brutus sebagai antitesis     perjuangan Gus Dur.

Setelah menyimak perjalanan  Gus Dur sejak  menjadi wartawan Jawa Pos (1995), saya mendapat simpulan: selain qithmir (anjing Ashabul Kahfi), semua anjing tunduk kepada pemilik daging, meskipun pemilik daging itu akan membunuh si anjing melalui racun diselipkan dalam daging.

Foto penulis saat di pantai Kuta Lombok.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *