
Oleh Nawawi A. Manan
Pembina PC Lesbumi NU Sidoarjo; jamaah Asosiasi bukan Gus (Asiabagus).
“Meski hanya bersenjata bambu runcing, bangsa kita bisa mengalahkan tentara Belanda yang menggunakan senjata modern,” kata seorang tokoh NU dalam pembukaan PKPNU diselenggarakan salah satu lembaga PWNU Jawa Timur di Pasuruan, beberapa tahun lalu.
Ketika menyampaikan materi Sanad Perjuangan Wali dan Ulama Pejuang Nusantara, pernyataan tersebut saya ralat karena tidak sesuai kenyataan, bersifat qala wa qila atau tembung jare.
Ketika membantu Almaghfurlah K.H. Hasyim Latief menyusun buku sejarah Lasykar Hizbullah Jawa Timur pada sekitar 1993, saya mendapat setumpuk data primer sejarah Lasykar Hizbullah dari pak Ud (K.H. Yusuf Hasyim) Tebuireng, Jombang. Dalam catatan tersebut dijelaskan, setelah kota Sidoarjo dan Mojokerto dibombardir tentara Belanda pada 17 Maret 1947, para pejuang mundur ke Malang melalui lereng Gunung Arjuno.
Di medan pertempuran para pejuang kalah, tetapi bangsa Indonesia menang dalam politik diplomatik. Dengan terjadinya Pertempuran Surabaya dikobarkan Resolusi Jihad, dunia internasional mengetahui bahwa Indonesia tidak jatuh dalam kekuasaan Sekutu.
Inggris menyebut Pertempuran Surabaya sebagai pengalaman tempur terberat pasca Perang Dunia II. Dalam New York Times edisi 15 November 1945, para serdadu Inggris menyebut medan laga Surabaya sebagai “neraka di timur Jawa”.
Kekuatan The Battle of Soerabia bukan hanya arek-arek Surabaya, melainkan para santri dan kiai pesantren dari seluruh penjuru Pulau Jawa dan Madura. Pasukan anak-anak Nahdliyin mengalir ke Surabaya bagaikan air bah untuk memenuhi seruan para ulama: “Jika kamu ingin masuk surga datanglah ke Surabaya, hari ini di Surabaya pintu surga terbuka.”
Para santri yang setiap hari menghafalkan nadzam ’Awamil atau Alfiyah berangkat dengan membawa senjata sak kepethuke, seperti golok, pedang, keris, klewang, pecok, sapu gerang, dan penthung didukung berbagai amaliyah bid’ah, seperti gemblengan, suwuk, wirid, dan laku tirakat.
Di antara senjata para santri paling terkenal ialah bambu runcing. Seorang paman saya – anggota Legiun Veteran – menceritakan pengalamannya ketika menghadapi tentara Belanda di daerah sebelah selatan Bandara Juanda Sedati, Sidoarjo.
“Ketika membawa bambu runcing sambil bertakbir, melayune banter kaya-kaya awak iki diseret bambu runcing tur gak wedi mati babar blas,” kata paman.
Gerakan pasukan bambu runcing menimbulkan suara gemuruh sehingga tentara Belanda ketakutan. Mereka lari tunggang-langgang dengan meninggalkan senjatanya. Para pejuang pun berebut mengambil senjata untuk menghabisi tentara Belanda.
Senjata prajurit Hizbullah yang juga ampuh ialah sujen. Tusuk sate yang telah diasmaki para kiai dibungkus kain putih, dibawa para prajurit dengan diselipkan pada bagian pinggangnya. Sujen-sujen itu ditancapkan di sepanjang jalan yang akan dilalui tentara Belanda.
“Nek Londo athik ngelangkahi sujen iku mesthi bingung, terus tembak-tembakan karo kancane,” kata paman dengan pandangan menerawang jauh.
Riwayat keampuhan senjata ketapel saya dengarkan sendiri dari pelakunya, Almaghfurlah K.H. Tsabit Pacet, Mojokerto; keluarga Raden Muhammad Yusuf Mangkudirja, makamnya di Desa Pepe, Sedati, Sidoarjo – insyaallah keturunan Sunan Kalijaga.
“Kabeh Londo kenek mimis sing tak setipno mesthi mati,” kata Kiai Tsabit.
“Wiradane nopo, Ba?” tanya saya beberapa tahun lalu ketika riyayan ke rumahnya.
“Yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik, fanshurna ‘alal qaumil kaafirin,” kata Kiai Tsabit.
“Kula amalaken pikantuk ta, Ba?”
“Arep kok gawe nyetip sapa wong Londone wis gak ana?”
“Sak niki ganti mungsuh Londo kulit cokelat, Yai!” kata teman saya, anggota Banser.
“Hahaha…” kata Kiai Tsabit sambil mengepulkan asap rokok klobotnya.








